Kamis, 06 November 2014

Jika Kau biarkan aku jatuh pada mereka yang salah, lalu apa arti kata 'bahagia' yang Kau maksudkan, Tuhan? Harus berapa lama lagi aku terluka?

Sabtu, 01 November 2014

Aku menyukai posisi ini, berada di bangku penonton. Melihat mereka dari segala sisi; merasakan segala peran yang mereka mainkan.

Selasa, 21 Oktober 2014

Bukankah ini anugerah? Mampu membaca apa yang dirasa orang lain tanpa bisa terbaca kembali oleh mereka? Di sini, aku bisa tetap terlihat baik-baik saja.

Ataukah ini justru kesialan? Sebab mereka tak pernah tahu. Di sini, Aku sedang menahan luka.

Senin, 20 Oktober 2014

Suatu Saat Kelak

Teruntukmu yang ku sebut sayang

Masihlah rindu ini ada. Kian hari kian bertambah jumlah. Merambah kemana saja. Bertopeng bahagia yang kureka sedemikian rupa, sepi merunuti bekas telapak kakimu. Ia perlahan menjauh. Begitu jauh.

Inikah fatamorgana? Menyesap angin yang kuanggap pelepas dahaga? Memeluk bayangmu yang seakan ada?

Aku menyukaimu entah karena apa. Bersamamu, bahagia dan luka seakan menjadi kawan. Selalu berdampingan. Tak terelakkan.

Tapi ku sukai caramu menahanku, sayang. Yang kau tak pernah tahu, aku bahkan tak pernah sekalipun beranjak.

Di ujung cerita ini, mungkin kita akan saling diam. Duduk berdampingan.
Karena untuk memeluk senja, yang kita butuhkan hanya hangat yang hadir saat tangan kita bertautan.
Bila kau kembali. Suatu saat kelak.

Minggu, 12 Oktober 2014

Ada yang ingin tetap tinggal, Tuhan. Entah apa. Entah bagaimana. Ia ada. Menetap. Tak terbantahkan.
Cinta untuknya.

Bolehkah?

Rabu, 24 September 2014

Tidurlah, sayang! Lelapmu menenangkan. Sejauh bisa mengantarmu pelan menuju mimpi yang kau anggap indah, ku pesankan peri bersayap untuk melingkupimu. Menjauhkanmu dari mimpi buruk; Sepertiku.

Selasa, 23 September 2014

Biar bagaimanapun, aku senang kau datang. Meski berarti kau hanya mampu ku lihat dari kejauhan.

Rabu, 17 September 2014

Aku (Tidak) Baik-baik Saja


Barangkali ini bukan cinta, tapi aku tak tahu apa namanya.

Seseorang yang aku kenal baik mengatakan, “Cinta itu nggak ada. Pasti selalu ada motif di balik kebutuhan kita. Coba sebutkan satu saja, contohnya apa? Siapa?”
Aku diam. Mengingat perasaan yang aku punya, rasanya seperti ditampar dari dua sisi dalam waktu bersamaan. Ingin sekali menyangkal, tapi tak bisa membuktikan apa-apa.

Rabu, 10 September 2014

Pernahkah kita saling diam bertatapan? Menghitung luka namun enggan beranjak; karena rindu terlampau memenuhi kepala.

Senin, 11 Agustus 2014

Senin, 04 Agustus 2014

Menunggu tanpa kepastian itu gila. Tapi ada sesuatu yang memaksaku. Ia pernah datang dari sana. Dari matamu.

Atau, itu hanya alasanku untuk mencintaimu dengan tulus. Yang mereka tak pernah mau tahu.

Rabu, 30 Juli 2014

Tuhan itu Ada. Dan apa menurutmu Dia akan setega itu membiarkan kau hidup sendirian? Tidak.

Kamis, 17 Juli 2014

Wahai Tuhan, muliakanlah para suami yang dengan tulus menjaga istri dan calon anaknya.

Kamis, 10 Juli 2014

Rabu, 02 Juli 2014

What people don't understand: I have to threw my heart away to get a little piece of happiness.
What I don't understand: Why do I have to?

Kamis, 26 Juni 2014

Selasa, 10 Juni 2014

Minggu, 25 Mei 2014

Jika yang kau minta adalah kesetiaan, kau telah mendapatkannya, Dik. Bahkan jauh sebelum kau mulai menjatuhkan hati.

—Bahkan saat kau tak lagi di sini.

Sabtu, 17 Mei 2014

Biarkan Aku Berjuang! Sekali Lagi.

Ini adalah apa yang ingin ku katakan padamu, Tuan. Anggap saja ini surat— yang tak akan pernah kau baca.

Salah satu temanku bertanya padaku, "apa yang membuatmu masih sendiri sampai sekarang?"
Ku katakan saja "Aku menyukai seseorang. Belum bisa hilang."
Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya "Apa dia tahu kamu menyukainya?"
"Iya. Dia tahu." Jawabku.
Lanjutnya, "Lalu bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?"
Aku diam.
"Sampai kapan kamu akan menunggunya? Bagaimana keadaannya sekarang? Masih sendiri? Atau bahkan sudah menikah?"
Aku masih diam.
"Kamu masih mengharapkannya, bukan? Lalu apa usahamu untuk itu? Umurmu sudah 24 tahun, artinya kamu sudah masuk tahap dewasa awal. Sudah bukan jamannya memendam perasaan, lalu menyesal karena kehilangan kesempatan begitu saja."
Aku diam.
"Jangan pikirkan harga diri, Riz! Kalau dengan melemparnya kamu bisa bahagia, lakukan saja!"

Ku cermati kata-katanya baik-baik, Dik. Dia benar. Aku hanya punya waktu setahun untuk mencari apa yang aku mau. Kamu. Sebelum perjodohan itu datang lagi. Sebelum waktu menggerus kesempatanku untuk bertemu denganmu, aku ingin memanfaatkannya dengan baik.
Aku ingin menemuimu, Dik...
Ijinkan aku memperjuangkanmu sekali lagi. Ijinkan aku berharap tanpa berdiam diri.