Jika Kau biarkan aku jatuh pada mereka yang salah, lalu apa arti kata 'bahagia' yang Kau maksudkan, Tuhan? Harus berapa lama lagi aku terluka?
Kamis, 06 November 2014
Sabtu, 01 November 2014
Selasa, 21 Oktober 2014
Senin, 20 Oktober 2014
Suatu Saat Kelak
Teruntukmu yang ku sebut sayang
Masihlah rindu ini ada. Kian hari kian bertambah jumlah. Merambah kemana saja. Bertopeng bahagia yang kureka sedemikian rupa, sepi merunuti bekas telapak kakimu. Ia perlahan menjauh. Begitu jauh.
Inikah fatamorgana? Menyesap angin yang kuanggap pelepas dahaga? Memeluk bayangmu yang seakan ada?
Aku menyukaimu entah karena apa. Bersamamu, bahagia dan luka seakan menjadi kawan. Selalu berdampingan. Tak terelakkan.
Tapi ku sukai caramu menahanku, sayang. Yang kau tak pernah tahu, aku bahkan tak pernah sekalipun beranjak.
Di ujung cerita ini, mungkin kita akan saling diam. Duduk berdampingan.
Karena untuk memeluk senja, yang kita butuhkan hanya hangat yang hadir saat tangan kita bertautan.
Bila kau kembali. Suatu saat kelak.
Minggu, 12 Oktober 2014
Rabu, 24 September 2014
Selasa, 23 September 2014
Rabu, 17 September 2014
Aku (Tidak) Baik-baik Saja
Rabu, 10 September 2014
Senin, 04 Agustus 2014
Rabu, 30 Juli 2014
Kamis, 17 Juli 2014
Rabu, 02 Juli 2014
Minggu, 25 Mei 2014
Sabtu, 17 Mei 2014
Biarkan Aku Berjuang! Sekali Lagi.
Ini adalah apa yang ingin ku katakan padamu, Tuan. Anggap saja ini surat— yang tak akan pernah kau baca.
Salah satu temanku bertanya padaku, "apa yang membuatmu masih sendiri sampai sekarang?"
Ku katakan saja "Aku menyukai seseorang. Belum bisa hilang."
Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya "Apa dia tahu kamu menyukainya?"
"Iya. Dia tahu." Jawabku.
Lanjutnya, "Lalu bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?"
Aku diam.
"Sampai kapan kamu akan menunggunya? Bagaimana keadaannya sekarang? Masih sendiri? Atau bahkan sudah menikah?"
Aku masih diam.
"Kamu masih mengharapkannya, bukan? Lalu apa usahamu untuk itu? Umurmu sudah 24 tahun, artinya kamu sudah masuk tahap dewasa awal. Sudah bukan jamannya memendam perasaan, lalu menyesal karena kehilangan kesempatan begitu saja."
Aku diam.
"Jangan pikirkan harga diri, Riz! Kalau dengan melemparnya kamu bisa bahagia, lakukan saja!"
Ku cermati kata-katanya baik-baik, Dik. Dia benar. Aku hanya punya waktu setahun untuk mencari apa yang aku mau. Kamu. Sebelum perjodohan itu datang lagi. Sebelum waktu menggerus kesempatanku untuk bertemu denganmu, aku ingin memanfaatkannya dengan baik.
Aku ingin menemuimu, Dik...
Ijinkan aku memperjuangkanmu sekali lagi. Ijinkan aku berharap tanpa berdiam diri.