Sabtu, 16 November 2013

Aku tahu dia tidak akan kembali hanya karena aku menangis. Juga tahu, waktu tak akan terulang hanya karena aku menyesali. Tapi Tuhan, ini sakit sekali.
Dia tidak sempurna, tapi mataku mampu melihatnya— tanpa cela. Karena itulah aku sangat menyukainya. Meski dalam kesakitan.



Ini bukan suatu kesalahan kan, Tuhan? 
Entah keadilan atau karma, tapi Tuhan telah membuat kita bertukar tempat.


Aku pernah berada di tempatmu. Tak banyak yang tahu tentang rasa sakitku waktu itu. Akhirnya aku hanya bisa berpura-pura bahagia. Tapi tetap saja persisten. Tak pernah undur meski selangkah. Tak pernah maju meski sekilan. Luka hanya membuatku belajar tanpa jera.

Tapi kita beda. Di tempatku, kau bisa lebih bisa mencari bahagia. Kabarnya kau sedang jatuh cinta. Aku lega sempat mengajarimu sesuatu. Semoga hal yang lain kau sudah persiapkan semuanya, ya.

Kini aku menikmati tempatmu dulu. Rasanya sama saja, rupanya. Aku harap Tuhan mengajarkan cara yang lebih mudah untuk melepasmu. Tapi kini, tak akan ku halangi lagi bahagiamu, Tuan. Aku hanya akan mencarimu saat aku ingin belajar.



Lagipula, kau tak pernah benar-benar datang.
Menikmati punggungmu pun bagiku kini cukup. Dan kau tak perlu tahu.

Sabtu, 02 November 2013

Suatu saat nanti, aku ingin kita perdebatkan lagi alasan mengapa kau pergi. Hingga aku tak perlu lagi menangis sendiri. 


Seperti ini.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Senin, 14 Oktober 2013

Aku jatuh cinta dengan caraku sendiri. Sesuatu yang belum tentu orang lain bisa pahami.
Di antara gemerisik hujan malam ini, ku tarikan jemari, menulis namamu di ulu hati. Sekali lagi.


Minggu, 13 Oktober 2013

Shoes

"Give me a pair of mature feet, that won't grow up more."


Pelangi



Warnamu membias tegas
Landainya nampak di puncak cakrawala
Seperti kau sedang mencoba merunuti garis takdir
Menjadi tangga penghubung surga
oleh bumi


Source picture: www.picship.com
You made me tired, dear, both of waiting or chasing. So what I suppose to do if leaving you gives me nothing?

: D

Kau terbilang hebat
Satu yang terbagi kekosongan
Legam yang merajah seluruh bayang
Menjadikan rasaku bertepian samar

Bagimu
Mengaduk benak sungguh mudah
Kau berdiam diri saja, nafasku tersengal

Seberapa sering aku menangis?
Itu pun tak bisa membuatmu bergeming, bukan?
Lantaran amarahmu tetap saja pongah
Sibuk menimbang laba antara sakit dan bahagia yang kau dapat

Ini bukan penyesalan
Dan tak juga ku paksakan kau untuk tinggal
Sebab kini ku temukan cara untuk bahagia
Cukup dengan diri sendiri.

Berjalan mundur, bertemu titik-titik jatuh.
Merasai indahmu dari jauh.