Rabu, 25 Februari 2015

Hati dan Kepala



Entah mana yang lebih keras.
Hati atau kepala.
Keduanya menyimpan kita.
Keduanya membuat kita terluka.

Lalu,
Jika ingin melupakan, mana yang paling mudah aku hancurkan?
Hati, atau kepala?

Kamis, 19 Februari 2015


Hujan atau airmata, tak maukah kau tahu mana yang lebih deras saat ini?

Lagi-lagi, hujan datang. Dan kini, hatiku lebam dihantam kenangan. Sudah seharusnya aku bisa memusnahkanmu dari pikiran. Sudah seharusnya kau berhenti membuatku menagis. Namun ternyata aku tidak cukup kuat untuk melakukan semua itu.

Aku merindukanmu. 

Aku rasa satu kalimatku itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Seberapapun aku mengelak, bayanganmu tak akan pernah lepas dari pikiran. Seperti yang pernah kubilang, melupakanmu sama seperti memisah jiwa dari raga.

Aku tak tahu kapan aku akan bisa melihat pria lain. Aku tak tahu kapan hatiku akan berhenti menganggapmu sebagai kekasihnya. Sebagai pemiliknya. Tapi mengharapmu merindukanku, aku tahu ini adalah hal yang sia-sia. 

Jumat, 13 Februari 2015


Aku tidak berencana melupakanmu. Namun, seharusnya kau sadar: Meninggalkanmu, aku sedang tidak bercanda!

Ini akan menjadi surat kesekian yang tak akan kau baca. Sejak aku mulai melangkah, kau sama sekali tidak ada upaya untuk maju barang selangkah. Hingga yang selalu kupertanyakan hanyalah— kau dimana?

Ini adalah titik dimana aku benar-benar kecewa dengan kita. Di sisi lain, ada seseorang yang kukenal baik sedang menunggumu di sana dengan tangan terbuka lebar. Bagaimana aku bisa bertahan?

Aku benar-benar lelah. Bahkan jika detik ini kau dihadapanku pun, aku sudah tak berminat lagi untuk memeluk. Sudah tak ada daya untuk berbicara. Bahkan berdiripun, mungkin tidak.

Jika saat itu kau benar-benar datang, mungkin aku akan sanggup bertahan. Mungkin rinduku bisa tersampaikan. Tapi tidak, Sayang, kau terlambat. Aku sudah tak ingin lagi jatuh cinta.

Selasa, 10 Februari 2015

Rabu, 04 Februari 2015