Hujan atau airmata, tak maukah kau tahu mana yang lebih deras saat ini?
Lagi-lagi, hujan datang. Dan kini, hatiku lebam dihantam kenangan. Sudah seharusnya aku bisa memusnahkanmu dari pikiran. Sudah seharusnya kau berhenti membuatku menagis. Namun ternyata aku tidak cukup kuat untuk melakukan semua itu.
Aku merindukanmu.
Aku rasa satu kalimatku itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Seberapapun aku mengelak, bayanganmu tak akan pernah lepas dari pikiran. Seperti yang pernah kubilang, melupakanmu sama seperti memisah jiwa dari raga.
Aku tak tahu kapan aku akan bisa melihat pria lain. Aku tak tahu kapan hatiku akan berhenti menganggapmu sebagai kekasihnya. Sebagai pemiliknya. Tapi mengharapmu merindukanku, aku tahu ini adalah hal yang sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar