Minggu, 25 Mei 2014

Jika yang kau minta adalah kesetiaan, kau telah mendapatkannya, Dik. Bahkan jauh sebelum kau mulai menjatuhkan hati.

—Bahkan saat kau tak lagi di sini.

Sabtu, 17 Mei 2014

Biarkan Aku Berjuang! Sekali Lagi.

Ini adalah apa yang ingin ku katakan padamu, Tuan. Anggap saja ini surat— yang tak akan pernah kau baca.

Salah satu temanku bertanya padaku, "apa yang membuatmu masih sendiri sampai sekarang?"
Ku katakan saja "Aku menyukai seseorang. Belum bisa hilang."
Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya "Apa dia tahu kamu menyukainya?"
"Iya. Dia tahu." Jawabku.
Lanjutnya, "Lalu bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?"
Aku diam.
"Sampai kapan kamu akan menunggunya? Bagaimana keadaannya sekarang? Masih sendiri? Atau bahkan sudah menikah?"
Aku masih diam.
"Kamu masih mengharapkannya, bukan? Lalu apa usahamu untuk itu? Umurmu sudah 24 tahun, artinya kamu sudah masuk tahap dewasa awal. Sudah bukan jamannya memendam perasaan, lalu menyesal karena kehilangan kesempatan begitu saja."
Aku diam.
"Jangan pikirkan harga diri, Riz! Kalau dengan melemparnya kamu bisa bahagia, lakukan saja!"

Ku cermati kata-katanya baik-baik, Dik. Dia benar. Aku hanya punya waktu setahun untuk mencari apa yang aku mau. Kamu. Sebelum perjodohan itu datang lagi. Sebelum waktu menggerus kesempatanku untuk bertemu denganmu, aku ingin memanfaatkannya dengan baik.
Aku ingin menemuimu, Dik...
Ijinkan aku memperjuangkanmu sekali lagi. Ijinkan aku berharap tanpa berdiam diri.

Sabtu, 16 November 2013

Aku tahu dia tidak akan kembali hanya karena aku menangis. Juga tahu, waktu tak akan terulang hanya karena aku menyesali. Tapi Tuhan, ini sakit sekali.
Dia tidak sempurna, tapi mataku mampu melihatnya— tanpa cela. Karena itulah aku sangat menyukainya. Meski dalam kesakitan.



Ini bukan suatu kesalahan kan, Tuhan? 
Entah keadilan atau karma, tapi Tuhan telah membuat kita bertukar tempat.


Aku pernah berada di tempatmu. Tak banyak yang tahu tentang rasa sakitku waktu itu. Akhirnya aku hanya bisa berpura-pura bahagia. Tapi tetap saja persisten. Tak pernah undur meski selangkah. Tak pernah maju meski sekilan. Luka hanya membuatku belajar tanpa jera.

Tapi kita beda. Di tempatku, kau bisa lebih bisa mencari bahagia. Kabarnya kau sedang jatuh cinta. Aku lega sempat mengajarimu sesuatu. Semoga hal yang lain kau sudah persiapkan semuanya, ya.

Kini aku menikmati tempatmu dulu. Rasanya sama saja, rupanya. Aku harap Tuhan mengajarkan cara yang lebih mudah untuk melepasmu. Tapi kini, tak akan ku halangi lagi bahagiamu, Tuan. Aku hanya akan mencarimu saat aku ingin belajar.



Lagipula, kau tak pernah benar-benar datang.
Menikmati punggungmu pun bagiku kini cukup. Dan kau tak perlu tahu.

Sabtu, 02 November 2013

Suatu saat nanti, aku ingin kita perdebatkan lagi alasan mengapa kau pergi. Hingga aku tak perlu lagi menangis sendiri. 


Seperti ini.