Teruntukmu yang ku sebut sayang
Masihlah rindu ini ada. Kian hari kian bertambah jumlah. Merambah kemana saja. Bertopeng bahagia yang kureka sedemikian rupa, sepi merunuti bekas telapak kakimu. Ia perlahan menjauh. Begitu jauh.
Inikah fatamorgana? Menyesap angin yang kuanggap pelepas dahaga? Memeluk bayangmu yang seakan ada?
Aku menyukaimu entah karena apa. Bersamamu, bahagia dan luka seakan menjadi kawan. Selalu berdampingan. Tak terelakkan.
Tapi ku sukai caramu menahanku, sayang. Yang kau tak pernah tahu, aku bahkan tak pernah sekalipun beranjak.
Di ujung cerita ini, mungkin kita akan saling diam. Duduk berdampingan.
Karena untuk memeluk senja, yang kita butuhkan hanya hangat yang hadir saat tangan kita bertautan.
Bila kau kembali. Suatu saat kelak.