Selasa, 21 Oktober 2014

Bukankah ini anugerah? Mampu membaca apa yang dirasa orang lain tanpa bisa terbaca kembali oleh mereka? Di sini, aku bisa tetap terlihat baik-baik saja.

Ataukah ini justru kesialan? Sebab mereka tak pernah tahu. Di sini, Aku sedang menahan luka.

Senin, 20 Oktober 2014

Suatu Saat Kelak

Teruntukmu yang ku sebut sayang

Masihlah rindu ini ada. Kian hari kian bertambah jumlah. Merambah kemana saja. Bertopeng bahagia yang kureka sedemikian rupa, sepi merunuti bekas telapak kakimu. Ia perlahan menjauh. Begitu jauh.

Inikah fatamorgana? Menyesap angin yang kuanggap pelepas dahaga? Memeluk bayangmu yang seakan ada?

Aku menyukaimu entah karena apa. Bersamamu, bahagia dan luka seakan menjadi kawan. Selalu berdampingan. Tak terelakkan.

Tapi ku sukai caramu menahanku, sayang. Yang kau tak pernah tahu, aku bahkan tak pernah sekalipun beranjak.

Di ujung cerita ini, mungkin kita akan saling diam. Duduk berdampingan.
Karena untuk memeluk senja, yang kita butuhkan hanya hangat yang hadir saat tangan kita bertautan.
Bila kau kembali. Suatu saat kelak.

Minggu, 12 Oktober 2014

Ada yang ingin tetap tinggal, Tuhan. Entah apa. Entah bagaimana. Ia ada. Menetap. Tak terbantahkan.
Cinta untuknya.

Bolehkah?

Rabu, 24 September 2014

Tidurlah, sayang! Lelapmu menenangkan. Sejauh bisa mengantarmu pelan menuju mimpi yang kau anggap indah, ku pesankan peri bersayap untuk melingkupimu. Menjauhkanmu dari mimpi buruk; Sepertiku.

Selasa, 23 September 2014

Biar bagaimanapun, aku senang kau datang. Meski berarti kau hanya mampu ku lihat dari kejauhan.

Rabu, 17 September 2014

Aku (Tidak) Baik-baik Saja


Barangkali ini bukan cinta, tapi aku tak tahu apa namanya.

Seseorang yang aku kenal baik mengatakan, “Cinta itu nggak ada. Pasti selalu ada motif di balik kebutuhan kita. Coba sebutkan satu saja, contohnya apa? Siapa?”
Aku diam. Mengingat perasaan yang aku punya, rasanya seperti ditampar dari dua sisi dalam waktu bersamaan. Ingin sekali menyangkal, tapi tak bisa membuktikan apa-apa.