Malam ini, aku berdiam diri lagi. Dengan musik ditelinga, ingatanku meluncur ke beberapa waktu lalu. Setahun, dua tahun, bahkan saat aku masih menggilaimu.
Seperti tulisan terakhirku di sini.
Aku ingat betapa tertekannya diriku karena tak bisa melupakanmu setelah kau begitu jauh.
Langkahku sempat melamban, tertahan pada ingatan semu yang tetap merayuku untuk berpikir bahwa aku pernah ada di hatimu. Haha! Benar, aku pernah sebodoh itu. Aku pernah senaif itu. Meskipun tetap saja naluri tak pernah mau menyangkalnya.
Tapi....
Jika kau bisa mendengarku, akan ku kuberitahu,
Aku bahagia.
Akhirnya, aku bahagia.
Kini aku menyadari suatu hal: bahagia tak harus datang saat kita berhasil melupakan luka, tapi saat kita mampu menerimanya sebagai suatu yang lalu, suatu yang seharusnya ku anggap sebagai bagian dari hidup, sesuatu yang seharusnya membuatku tumbuh.
Pada akhirnya, aku dapat menemukan bahagiaku tanpa perlu melupakanmu.
Kau tetap menjadi bagian dari hidupku. Sebagai sesuatu yang tak bisa aku lupakan, namun tak lagi membuatku merasakan lara.
Peranmu telah tergantikan, oleh seseorang yang mampu mencintaiku dengan tulus. Seseorang yang lain darimu.
Pilihan terakhirku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar