Aku ingin berhenti merindukanmu.
Aku ingin berhenti merindukanmu.
Aku ingin berhenti jatuh padamu.
"Tears stream down your face when you lose something you can not replace."
-Coldplay
Diamlah. Aku tak sedang menyanjungmu. Aku sedang berpikir apa yang salah denganku. Setiap orang memiliki kisah cintanya sendiri-sendiri. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, lalu menikah. Lalu mengapa aku hanya bisa terpaku pada namamu― sejak dulu?
Tuan, jika aku tak cukup baik sebagai manusia, tolong kau yang memintakan pada Tuhan agar aku bisa berkawan. Sepeninggalanmu, akupun ingin bahagia.
Mereka bilang, hidup bersama seseorang yang mereka cinta itu menyenangkan. Ada kebahagiaan tersendiri dalam menghidangkan makanan untuk seseorang yang mereka cinta, bergandengan tangan, bercerita hingga larut malam― ah, kau pun sebahagia itu, bukan?
Tuan, sebenarnya tujuanku sederhana saja: aku, ingin berhenti merindukanmu; Hal yang tentunya tak boleh kulakukan, sekalipun yang kuberi tahu hanya Tuhan.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai, Tuan, setelah sekian lama aku jatuh sendirian. Aku ingin tahu seperti apa rasa yang hinggap saat mendengarkan lagu-lagu cinta yang katanya― menyenangkan. Aku ingin tahu.
Boleh, kan?
Lalu, untukku, bagaimana agar aku kembali bisa― jatuh cinta?
Sepertigamu masih ada. Ia bagai paku yang menunggu sesuatu untuk digantungkan. Lagi, katanya; setelah ku tanggalkan harapan yang kini ada dalam kotak yang baru saja ku buang. Ku amati ia dengan seksama; menancap tak mau lepas meski berkali-kali berusaha ku koyak dari akarnya. Tetap saja ia gagah terpancang. Tapi, mungkin saja ia bisa ku gunakan untuk menggantungkan pengingat; tentang apa yang harus dan tak boleh lagi ku lakukan— sampai tiba waktunya untuk ku kembali jatuh cinta.