Jika aku bisa sekuat itu menjalani hidup, aku takkan pernah mengeluh.
Meski inginku sekedar berduaan hanya dengan Tuhanku— Ia takkan menyukai itu.
Mereka tak bisa melihatnya, sesuatu yang melingkar di jari manisku sejak lama. Entah itu janji atau takdir yang yang ku nikahi, keduanya sama-sama menghadirkan sepi.
Ternyata hidup bisa seromantis ini.
Kemudian sesuatu datang lagi. Kini, dia menghantam dadaku keras-keras. Membuatku sulit bernapas.
Namanya Rindu.
Ini jenis yang sama seperti dulu. Bertuliskan namamu.
Sayang, untuk sekali saja, bisa tolong hentikan sakitku?
Aku tidak berencana melupakanmu. Namun, seharusnya kau sadar: Meninggalkanmu, aku sedang tidak bercanda!
Ini akan menjadi surat kesekian yang tak akan kau baca. Sejak aku mulai melangkah, kau sama sekali tidak ada upaya untuk maju barang selangkah. Hingga yang selalu kupertanyakan hanyalah— kau dimana?
Ini adalah titik dimana aku benar-benar kecewa dengan kita. Di sisi lain, ada seseorang yang kukenal baik sedang menunggumu di sana dengan tangan terbuka lebar. Bagaimana aku bisa bertahan?
Aku benar-benar lelah. Bahkan jika detik ini kau dihadapanku pun, aku sudah tak berminat lagi untuk memeluk. Sudah tak ada daya untuk berbicara. Bahkan berdiripun, mungkin tidak.
Jika saat itu kau benar-benar datang, mungkin aku akan sanggup bertahan. Mungkin rinduku bisa tersampaikan. Tapi tidak, Sayang, kau terlambat. Aku sudah tak ingin lagi jatuh cinta.