Selasa, 06 November 2018

Surat selain rindu.

Malam ini, aku berdiam diri lagi. Dengan musik ditelinga, ingatanku meluncur ke beberapa waktu lalu. Setahun, dua tahun, bahkan saat aku masih menggilaimu.

Seperti tulisan terakhirku di sini.
Aku ingat betapa tertekannya diriku karena tak bisa melupakanmu setelah kau begitu jauh.

Langkahku sempat melamban, tertahan pada ingatan semu yang tetap merayuku untuk berpikir bahwa aku pernah ada di hatimu. Haha! Benar, aku pernah sebodoh itu. Aku pernah senaif itu. Meskipun tetap saja naluri tak pernah mau menyangkalnya.

Tapi....
Jika kau bisa mendengarku, akan ku kuberitahu,

Aku bahagia.
Akhirnya, aku bahagia.

Kini aku menyadari suatu hal: bahagia tak harus datang saat kita berhasil melupakan luka, tapi saat kita mampu menerimanya sebagai suatu yang lalu, suatu yang seharusnya ku anggap sebagai bagian dari hidup, sesuatu yang seharusnya membuatku tumbuh.

Pada akhirnya, aku dapat menemukan bahagiaku tanpa perlu melupakanmu.
Kau tetap menjadi bagian dari hidupku.  Sebagai sesuatu yang tak bisa aku lupakan, namun tak lagi membuatku merasakan lara.

Peranmu telah tergantikan, oleh seseorang yang mampu mencintaiku dengan tulus. Seseorang yang lain darimu.
Pilihan terakhirku.

Senin, 21 September 2015

Menghapusmu memerlukan waktu yang cukup lama.

Dan aku rasa itu bukan sekarang.

Kamis, 17 September 2015

Aku ingin berhenti merindukanmu.
Aku ingin berhenti merindukanmu.

Aku ingin berhenti jatuh padamu.

"Tears stream down your face when you lose something you can not replace."
-Coldplay

Diamlah. Aku tak sedang menyanjungmu. Aku sedang berpikir apa yang salah denganku. Setiap orang memiliki kisah cintanya sendiri-sendiri. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, lalu menikah. Lalu mengapa aku hanya bisa terpaku pada namamu― sejak dulu?

Tuan, jika aku tak cukup baik sebagai manusia, tolong kau yang memintakan pada Tuhan agar aku bisa berkawan. Sepeninggalanmu, akupun ingin bahagia.

Mereka bilang, hidup bersama seseorang yang mereka cinta itu menyenangkan. Ada kebahagiaan tersendiri dalam menghidangkan makanan untuk seseorang yang mereka cinta, bergandengan tangan, bercerita hingga larut malam― ah, kau pun sebahagia itu, bukan?

Tuan, sebenarnya tujuanku sederhana saja: aku, ingin berhenti merindukanmu; Hal yang tentunya tak boleh kulakukan, sekalipun yang kuberi tahu hanya Tuhan.

Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai, Tuan, setelah sekian lama aku jatuh sendirian. Aku ingin tahu seperti apa rasa yang hinggap saat mendengarkan lagu-lagu cinta yang katanya― menyenangkan. Aku ingin tahu.
Boleh, kan?

Lalu, untukku, bagaimana agar aku kembali bisa― jatuh cinta?

Jumat, 24 April 2015

Jika kau benar mencintaiku,inginku hanya satu:
Jadikan aku nyata; di sampingmu.
Sebab hatiku sudah tak lagi ingin terluka semudah dulu.

Minggu, 05 April 2015

Sepertigamu masih ada. Ia bagai paku yang menunggu sesuatu untuk digantungkan. Lagi, katanya; setelah ku tanggalkan harapan yang kini ada dalam kotak yang baru saja ku buang. Ku amati ia dengan seksama; menancap tak mau lepas meski berkali-kali berusaha ku koyak dari akarnya. Tetap saja ia gagah terpancang. Tapi, mungkin saja ia bisa ku gunakan untuk menggantungkan pengingat; tentang apa yang harus dan tak boleh lagi ku lakukan— sampai tiba waktunya untuk ku kembali jatuh cinta.

Selasa, 31 Maret 2015

Jika aku bisa sekuat itu menjalani hidup, aku takkan pernah mengeluh.

Meski inginku sekedar berduaan hanya dengan Tuhanku— Ia takkan menyukai itu.

Sabtu, 21 Maret 2015

Kini, setelah dia bersama yang  lain, aku justru tak sedikitpun menangis. Bukan berarti aku tak peduli, tapi mungkin aku menjadi lebih pintar menggunakan hati.

Bahagianya adalah alasan mengapa tak seharusnya aku memilih sakit.

Sabtu, 14 Maret 2015

Sebab akan ku serahkan hidupku padamu, akan ku tundukkan baik jiwa maupun ragaku padamu, maka ijinkanlah kelak kau ku uji terlebih dahulu, wahai calon suamiku.

Bukan apa-apa, melainkan tentang seberapa mampu kau akan membimbingku.

Kamis, 12 Maret 2015


Mereka tak bisa melihatnya, sesuatu yang melingkar di jari manisku sejak lama. Entah itu janji atau takdir yang yang ku nikahi, keduanya sama-sama menghadirkan sepi.

Ternyata hidup bisa seromantis ini.

Kemudian sesuatu datang lagi. Kini, dia menghantam dadaku keras-keras. Membuatku sulit bernapas.

Namanya Rindu.

Ini jenis yang sama seperti dulu. Bertuliskan namamu.

Sayang, untuk sekali saja, bisa tolong hentikan sakitku?

Rabu, 25 Februari 2015

Hati dan Kepala



Entah mana yang lebih keras.
Hati atau kepala.
Keduanya menyimpan kita.
Keduanya membuat kita terluka.

Lalu,
Jika ingin melupakan, mana yang paling mudah aku hancurkan?
Hati, atau kepala?

Kamis, 19 Februari 2015


Hujan atau airmata, tak maukah kau tahu mana yang lebih deras saat ini?

Lagi-lagi, hujan datang. Dan kini, hatiku lebam dihantam kenangan. Sudah seharusnya aku bisa memusnahkanmu dari pikiran. Sudah seharusnya kau berhenti membuatku menagis. Namun ternyata aku tidak cukup kuat untuk melakukan semua itu.

Aku merindukanmu. 

Aku rasa satu kalimatku itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Seberapapun aku mengelak, bayanganmu tak akan pernah lepas dari pikiran. Seperti yang pernah kubilang, melupakanmu sama seperti memisah jiwa dari raga.

Aku tak tahu kapan aku akan bisa melihat pria lain. Aku tak tahu kapan hatiku akan berhenti menganggapmu sebagai kekasihnya. Sebagai pemiliknya. Tapi mengharapmu merindukanku, aku tahu ini adalah hal yang sia-sia. 

Jumat, 13 Februari 2015


Aku tidak berencana melupakanmu. Namun, seharusnya kau sadar: Meninggalkanmu, aku sedang tidak bercanda!

Ini akan menjadi surat kesekian yang tak akan kau baca. Sejak aku mulai melangkah, kau sama sekali tidak ada upaya untuk maju barang selangkah. Hingga yang selalu kupertanyakan hanyalah— kau dimana?

Ini adalah titik dimana aku benar-benar kecewa dengan kita. Di sisi lain, ada seseorang yang kukenal baik sedang menunggumu di sana dengan tangan terbuka lebar. Bagaimana aku bisa bertahan?

Aku benar-benar lelah. Bahkan jika detik ini kau dihadapanku pun, aku sudah tak berminat lagi untuk memeluk. Sudah tak ada daya untuk berbicara. Bahkan berdiripun, mungkin tidak.

Jika saat itu kau benar-benar datang, mungkin aku akan sanggup bertahan. Mungkin rinduku bisa tersampaikan. Tapi tidak, Sayang, kau terlambat. Aku sudah tak ingin lagi jatuh cinta.

Selasa, 10 Februari 2015

Rabu, 04 Februari 2015

Minggu, 25 Januari 2015

Entah bagaimanapun caranya, aku ingin bisa baik-baik saja.

Sekali ini, dan untuk seterusnya nanti, ijinkan aku menyayangi diriku sendiri.

Senin, 19 Januari 2015

Jika memang ingin bersama, berhentilah bertingkah layaknya kita tak saling menginginkan. Itulah yang harus kita lakukan.

Itulah yang kubenci dari kita.

Jumat, 16 Januari 2015

The only fault you did was bringing me into this depth. I lose strenght to stand, so I need you to come.
But you don't, Dear. You won't ever come.

In the end, I only hope you to forgive me for being this weak.

Kamis, 15 Januari 2015

Baiknya kita saling melepas saja. Aku hanya ingin berhenti mengiba.